Sebuah tulisan dianggap sederhana,tetapi jika kita mencoba menulis semua tak sesederhana itu




Peneladanan  Dharma Perguruan Tinggi
Rektor UPGRIS , Dr muhdi SH Mhum,dalam kesempatan tidak lama ini yang diikuti penulis pada orientasi dosen baru,Muhdi menggedor dada para dosen baru, “jika hanya mengajar saja ,dosen itu ibarat tukang becak!”
Begitulah kutipan pertama yang saya ambil dari sebuah blog seorang dosen yaitu : “Setianakaandrian.blogspot.co.id”
Dalam blog beliau disitu menceritakan tentang peneladanan sebuah Perguruan Tinggi sekarang ini, dalam perguruan tinggi sekarang ini tentunya telah memiliki banyak dosen yang telah berupaya mengajar dan membekali  para mahasiswa/mahasiswinya dengan pengetahuan yang semestinya diberikan oleh seorang dosen kepada anak didiknya.

Tapi setelah kita menyadari bahwa seorang dosen yang hanya mengajar itu sebatas pekerja keras saja,ia hanya menunaikan tugas mengajarnya saja. Dilain sisi sebenarnya seorang dosen mempunyai kewajiban lain, dilain sisi sebagai pengajar dosen juga harus melakukan penelitian serta pengabdian masyarakat.

Lingkungan akademis pun sangat berpengaruh terhadap  perkembangan pendidikan, Perguruan Tinggi berperan dalam mencetak sumber daya yang kreatif, inovatif, unggul, dan memiliki jati diri yang berkualitas setelah keluar dari perguruan tinggi dimana mereka menemba ilmu.

Ketika Dosen telah memberikan pengajaran menerapkan keteladanan yang telah mereka berikan kepada anak didiknya,diharapkan mahasiswa/mahasiswi pun memiliki kompetisi dalam bidang ilmu

pengatehuan,tekhnologi,ekonomi,social politik diera mendatang dan bisa mengimbangi negara-negara lain dalam persaingan global yang semakin kompleks.









Ikthisar Pemerataan Label Sekolah
“Pada Hakikatnya Semua Sekolah Sama”
Dalam Era Globalisasi sekarang ini sebuah sekolah favorit tentu menjadi incaran para orang tua untuk menyekolahkan anak mereka kedalam sebuah sekolah favorit.
Tapi setelah kita menyadari dan menelusuri bahwa sekolah favorit bukanlah penentu dan jaminan ketika kita kelak lulus akan menjadi orang yang berhasil, semua itu tergantung atau kembali lagi kepada pribadi kita masing-masing bagaimana kita menyikapinya , bagaimana kita bersaing kelak ketika kita menempa ilmu didalam sebuah sekolah tersebut. Sekolah favorit sebenarnya sama saja dengan sekolah sederajat lainnya, yang membedakannya mungkin hanyalah akreditasinya.

Semua tentu kembali lagi kepada pribadi siswa/siswi masing-masing, jika mereka mampu menyesuaikan sikap dan perilakunya dalam menemba ilmu di sekolah favorit tentu saja semua itu malah jauh lebih bagus, dari pada ketika kita sudah masuk kedalam sebuah sekolah favorit tersebut tetapi kita tidak bisa mengikuti sama saja tidak sejalan dengan keinginan orang tua yang menyekolahkan kita kesekolah favorit.













Ikhtiar Memaknai Perayaan Hari Merdeka
“kemerdekaan bukanlah berarti telah bebas sepenuhnya dengan tidak terkena atau lepas dari tuntutan.kemerdekaan bukan pula perayaan dan pesta kesenangan semata.barangkali,[ahlawan yang mendahului kita akan sangat bersedih di alam sana jika melihat generasi penerusnya tidak mampu mengisi kemerdekaan sesuai hakikatnya.mengisi dengan aktifitas hidup yang kebermaknaan dalam berbanga dan bernegara”

 “Orang Bilang Tanah Kita tanah Surga”

Kutipan diatas saya ambil dari blog seorang dosen “setianakaandrian.blogspot.co.id”
Hakikatnya Negara kita memanglah sudah merdeka, tapi kata MERDEKA itu sangat jauh berbanding terbalik dengan kenyataannya, dinegara kita memanglah sudah merdeka, tapi  jika kita melihat lebih jauh dan menyadari rakyat kecil dipedasaan belumlah merdeka seperti apa yang sudah dikemukakan oleh pejabat-pejabat kita bahwa negeri kita sudah merdeka.


Kemedekaan bagi sebagian orang cuma ditandai dengan adanya sebuah perlombaan-perlombaan biasa, tanpa ,ereka sadari apa arti merdeka sebenarnya.

Sebagian orang berkata tanah kita begitu kaya, begitu luas, tapi mereka tidak menyadari bahwa Negara kita sebagian masih dikuasai oleh Negara-negara lain, Negara lain memanfaatkan hasil bumi, perusahaan-perusahaan besarpun sebagian dikelola oleh Negara asing, semua itu tidak disadari oleh sebagian masyarakat.

Penanaman nasionalisme

Kata diatas tentulah mudah diucapkan tetapi memaknai kalimat tersebut sangatlah susah, ketika kita menyadari bahwa penanaman nasionalisme sangatlah penting untuk dibangun didalam sebuah negeri ini.
Barng tentu banyak jalan untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.jiwa nasionalisme tidak akan tumbuh begitu saja.segalanya butuh proses,pembiasaan,dan tanggung jawab besar untuk terus menjaga serta menjiwai nilai-nilai keindonesiaan ini.bersama-sama dengan sepenuh potensi dan peranya masing-masing guna mencapai ,mempertahankan,serta mengabadikan identitas,integritas,kemakmuran,dan kekuatan bangsa sebagai salah satu ikthtiar menebar pemaknaan nasionalisme .Semoga***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Potret Buram Pendidikan di Indonesia