Potret Buram Pendidikan di Indonesia

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk memutus mata rantai kemiskinan.”
“Pendidikan memang merupakan kebutuhan terpenting sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.” Begitulah sebuah kutipan yang saya ambil dalam sebuah blog seseorang, kita Begitulah sebuah kutipan yang saya ambil dalam sebuah blog seseorang, kita tentu menyadari bahwa pendidikan memang hal yang kita butuhkan sampai akhir hayat. Tak memandang latar belakang umur, pendidikan merupakan kunci sukses dalam  mejalani kehidupan.
Saat ini tentu jika kita bisa melihatnya sendiri,  pendidikan yang terjadi di Indonesia mungkin belum merata contohnya saja di daerah perkotaan, didaerah perkotaan pendidikan sangatlah maju. Di perkotaan pendidikan sudah menggunakan komputer sebagai media pembelajaran mereka, maka jika tidak bisa menggunakan komputer mereka dianggap kudet(kurang updet) atau kuper(kurang pergaulan). Tetapi jka dilihat didaerah pedesaan bahkan daerah yang mungkin masih terpencil, pendidikan masih jauh dikatakan layak sebagai sebuah pedidikan. Sungguh miris, tapi itulah pendidikan yang kita lihat.


Mempertimbangkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah plat fotografik yang tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Tapi saat ini Indonesia perlu berbangga kepada anak bangsa, yakni Heni Sri Sundani, beliau adalah sosok inisiator gerakan #anakpetanicerdas. Beliau dulunya merupakan seorang TKI yang bekerja di Hongkong, tetapi selain beliau menjadi seorang TKI beliau menempuh mendidikan di Hongkong. Setelah beliau selesai menempuh pendidikannya beliau memutuskan untuk kembali ke Indonesia, beliau tergerak hatinya untuk membangun desa tercinta menjadi lebih baik. Bersama dengan suaminya yang mempunyai kepedulian dan mimpi sama tentang desa dan pendidikan, Heni membuat sebuah komunitas yang bernama AgroEdu Jampang Community. Komunitas yang mewadahi para petani dan keluarganya.


Ide beliau tentu sangat bermanfaat, beliau membuka mindset petani, melalui interaksi dengan para pengunjung dan membagikan ilmu pertanian, mereka tahu bahwa ilmu itu berharga. Harapannya, mereka mau menyekolahkan anak-anakknya ke jenjang yang lebih tinggi.
Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh tokoh penting Indonesia. Menurut Wakil Presiden Jusuf  Kalla, “Pendidikan merupakan pondasi kemajuan bangsa untuk meningkatkan produktivitas dan menanamkan niai-nilai. Hasil pendidikan tidak seketika bisa kita lihat, tetapi dalam 10 tahun kedepan. Karena itu, kita harus pastikan pendidikan berjalan dengan baik dan bermutu.”
Dalam pendidikan saat ini ada tiga hal pokok, yakni: Sarana dan prasarana pendidikan, guru, serta sistem. Tetapi saat ini pendidikan dititikberatkan pada pembangunan sarana dan pasarana pendidikan, semisal pembangunan  gedung sekolah. Kita bisa melihat hampir disetiap sekolah bangunan atau gedung sekolah berdiri dengan kokoh dan kuat. Tetapi menurut saya semua itu belum merata, pembangunan gedung sekolah disetiap daerahnya masih berbeda-beda. Sering kita melihat ditelevisi bahwa ada sebagian atau beberapa sekolah yang pembangunannya saja dibantu oleh dermawan melalui sumbangan, itu menandakan belum meratanya prasarana yang ada dinegeri kita ini. Jangankan dalam hal pembangunan, pemertaan jumlah guru disebagian daerah pun belum bisa diatasi.
Menyoal tentang fenomena pendidikan saat ini, dapat kita kaitkan dengan peringatan hari Guru yang diperingati 25 November, kemarin. Beranda media sosial dipenuhi pujian dan ucapan terimakasih bagi para guru. Saat Presiden Jokowi mengundang guru-gurunya ketika sekolah ke istana. Guru dapat disebut sebagai benteng peradaban. Tokoh utama yang mampu mengubah nasib suatu bangsa dikemudian hari lewat pendidikan. Melahirkan lagi negarawan bersih.
Dapat ita ambil contoh seorang guru Bahasa Inggris di Jakarta bercerita, dia diserahi tugas tambahan untuk mengajar sejarah oleh pihak yayasan. Padahal dia tak pernah membaca buku sejarah. Andalannya hanya panduan kurikulum dan buku teks wajib yang digunakan oleh pihak sekolah. Bisa dibayangkan bagaimana prosess belajar mengajar akan sangat tidak menarik.

Potret semacam ini sering terjadi. Karena keterbatasan dan lebih sering enggan belajar, guru hanya mengajar ala kadarnya. Di sisi lain murid-muridnya sudah menggunakan akses internet, tv kabel dan mengunduh buku lewat tablet mereka. 
Sosok seorang Guru pun disini sangat menentukan bagi para peserta didik, tentang bagaimana mereka menerima masukan dan ajaran yang diberikan kepada mereka. Masa depan pendidikan bisa dikatakan berada ditangan seorang Guru, tapi bukan berarti semua beban harus dititikberatkan hanya kepada guru saja, tentu semangat setiap individu adalah kunci utama bagi mereka untuk menentukan nasib mereka sendiri. Ada pepatah mengatakan, Berakit-rakit kehulu berenang-renang ketepian maksud dari perumpamaan tersebut adalah menuntut kita untuk bersusah dahulu baru kita dapat merasakan buah manis dari masa susah kita dahulu. Setiap pribadi tentu memiliki pola pikir yang berbeda-beda maka dari itu semua tergantung terhadap bagaimana kita menyikapinya.

Sebuah harapan anak bangsa yang berada dipelosok desa digantungkan tinggi-tinggi, harapan mereka sederhana, mereka bisa ikut merasakan sebuah pendidikaan yang sama, pendidikan yang diberikan seperti halnya di daerah perkotaan. Impian mereka pun mungkin sederhana, ikut mambangun negeri kita tercinta menjadi lebih baik. ***Semoga saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah tulisan dianggap sederhana,tetapi jika kita mencoba menulis semua tak sesederhana itu